Sabtu, 03 Oktober 2020

𝗜𝗦𝗔𝗕𝗘𝗟𝗟𝗔 𝗚𝗨𝗭𝗠𝗔𝗡, 𝗦𝗜 𝗖𝗔𝗡𝗧𝗜𝗞 𝗣𝗘𝗠𝗕𝗨𝗡𝗨𝗛 𝗜𝗕𝗨 𝗞𝗔𝗡𝗗𝗨𝗡𝗚


Kejadian yang terjadi 7 tahun silam tepatnya pada Agustus 2013 di Colorado, Amerika Serikat ini sempat menggegerkan media sosial beberapa waktu lalu. Pasalnya Isabella yang saat itu berusia 18 tahun masih bisa tersenyum di pengadilan setelah tragedi penusukan terhadap ibu kandungnya sebanyak 151 kali. Tapi tidak hanya tampak sumringah, sesekali Isabella juga terlihat bersedih saat hakim menyebut nama ibunya. Jelas terlihat ketidakseimbangan mental yang membuat Isabella divonis tidak bersalah karena menderita 𝙎𝙘𝙝𝙞𝙯𝙤𝙥𝙝𝙧𝙚𝙣𝙞𝙖 𝙋𝙖𝙧𝙖𝙣𝙤𝙞𝙙 (bisa googling sendiri ya buat penjelasannya). 


Berdasarkan dari artikel-artikel yang aku baca (dalam & luar negeri), Isabella ini merupakan korban perceraian orang tuanya. Orang tua Isabella bercerai saat dia berumur 5 tahun. Isabella yang kemudian ikut ibunya (yang menikah lagi setelah bercerai) sering terlihat murung dan melawan ibunya. Dia merasa seharusnya ibunya lebih fokus merawatnya bukannya malah menikah lagi. Sejak saat itu Isabella menjadi nakal, pembangkang, dan sering berselisih paham dengan ibunya. 


Saat Isabella berumur 7 tahun, ibunya menelpon ayah kandung Isabella untuk memberitahukan bahwa ia sudah tidak sanggup mengasuh Isabella yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Ayah Isabella hanya mengiya-iyakan saja tanpa mengambil sikap apapun. 


Perselisihan antara Isabella dan ibunya berlanjut hingga Isabella berumur 18 tahun. Bahkan sehari sebelum kejadian penikaman itu terjadi, Isabella sempat mengirim email kepada ibunya dengan isi "𝒀𝒐𝒖 𝑾𝒊𝒍𝒍 𝑷𝒂𝒚 𝑰𝒕-(𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢)". Sang ibu yang ketakutan dengan teror dari anaknya kemudian menghubungi 911 untuk melaporkan anaknya. Isabella tampak ketakutan setelah di interogasi oleh polisi. Tapi polisi tidak menangani lebih lanjut karena beranggapan itu hanya masalah keluarga. 


**


Dari kasus Isabella kita bisa belajar untuk tidak menyepelekan kesehatan mental anak, dalam hal ini anak-anak yang berangkat dari keluarga broken home. Memang tidak ada yang salah dengan perceraian, at least itu lebih baik daripada harus menjalani hubungan yang toxic. Tapi anak akan menjadi satu-satunya pihak yang paling terluka akibat perceraian orang tuanya. Sekalipun luka itu teratasi, tapi akan ada kekosongan peran yang mereka rasakan.


Setelah bercerai orang tua cenderung lebih mudah untuk menata hidup kembali, tapi tidak dengan anak-anak. Anak-anak tidak memiliki kontrol sebaik orang dewasa. Mereka melihat perceraian sebagai hancurnya keluarga yang mereka miliki. Mereka kehilangan keluarga yang seharusnya menjadi sumber perlindungan. 


Untuk yang telah atau yang sedang berada dalam proses perceraian, jangan remehkan perasaan anak, daripada hanya saling menyalahkan mantan pasangan untuk pembenaran diri, bukankah lebih baik saling mendukung untuk membantu anak menyembuhkan luka hatinya? Toh anak-anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Please, jangan ciptakan Isabella Isabella lainnya. 

Jumat, 05 Februari 2016

Review : ENGLISH VINGLISH

Bollywood! Saya tidak pernah jauh dari kata tersebut, hampir setiap hari. Hampir setiap hari saya menonton film bollywod, hampir setiap hari saya mengguncangkan tangan khas punjab untuk memeragakan tarian khas hindi, hampir setiap hari suami saya harus bersabar untuk selalu mendengar nyanyian hindi dari mulut saya (but, ga kyk briptu norman sih hehe). Saya tergila-gila dengan nyanyiannya, dengan keunikan orang-orangnya, dengan masakan yang hampir mendekati sama dengan masakan Aceh dan dengan bahasa yang terkadang juga terdengar sama.

 I'm Bollywood Adicct. Well, dari sekian banyaknya koleksi film bollywood saya, saya hanya pernah me-review tentang film Taree Zamaan Pyar yang waktu itu saya beri nilai 8 dari 10. Kali ini saya akan mencoba mereview film English Vinglish besutan Ghauri Sindhe. English Vinglish merupakan film yang cukup unik menurut saya, film ini berhasil keluar dari pakem Bollywood pada umumnya yang mellow, full dance and sing. Film English Vinglish boleh dikatakan Film Bollywood rasa Hollywood

. 

English Vinglish menceritakan tentang Shasi Godbole, seorang ibu yang memiliki dua anak (diperankan oleh Sri Devi) yang memiliki hobi memasak dan membuka usaha rumahan memproduksi Ladoo (Manisan khas India). Sashi benar-benar serius dalam pekerjaannya dalam mengurus rumah tangga, selain membuat Ladoo tentunya. Disebabkan karena Shasi yang hanya berkutat di bidang dapur tanpa bekerja kantoran seperti perempuan modern umumnya, dia dipandang kolot oleh anak dan suaminya, ditambah dengan kemampuan bahasa inggrisnya 0 besar dimana anak dan suaminya menggunakan bahasa inggris dengan lancar ketika berinteraksi dengan orang lain. 

Sashi merasa tertekan, anaknya merasa malu saat Sashi menghadiri pertemuan di sekolah anaknya, saat semua orang berbahasa Inggris, hanya Sashi yang menggunakan Bahasa Hindi. Belum lagi sikap suaminya yang bekerja kantoran menganggap hal yang dilakukan istrinya dirumah adalah sepele, bahwa itu memang pekerjaan ibu rumah tangga biasa yang tidak perlu di beri point plus sebagai penghargaan. 

Cerita mengalir ketika saudara perempuan Sashi yang bertempat tinggal di Amerika mengirimkan undangan pernikahan anaknya. Dan karena Sashi tidak memiliki pekerjaan, maka suaminya memutuskan agar Sashi berangkat terlebih dahulu ke Amerika untuk membantu persiapan acara pernikahan keponakannya yang akan diadakan 5 minggu lagi . Bisa dibayangkan betapa takutnya Sashi ke Amerika dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat buruk.

Kelucuan pun terjadi saat Sashi memulai perjalanannya ke Amerika dan beradu akting dengan Amitabh Bachcan, meski telah vakum selama 15 tahun di dunia entertaint dan ini merupakan film pertama setelah "tidur panjangnya" tapi kemampuan akting Sri Devi benar-benar masih mengagumkan. Sesampainya di Amerika Sashi benar-benar merasa asing, tidak tahu harus berbicara apa dan dengan segala keterbatasan bahasa Inggrisnya yang membuat dia benar-benar serasa  

Lantas, apakah Sashi berhasil dengan bahasa Inggrisnya? Bagaimana dengan keluarganya di India? Saksikan kelanjutannya dalam film English Vinglish (bibir di monyong2kan ala Fenny Rose dalam Silet hahaha). But really, film ini super bagus. Semua akting pemainnya sempurna. Semua mengalir begitu saja. Pemilihan artis/pemain dalam film ini sesuai dengan karakter di film sehingga menghasilkan film yang benar-benar natural seolah tanpa dibuat-buat. Layak ditonton bersama keluarga. Saya beri nilai 9 dari 10 untuk English Vinglish. Terlalu banyak? Film ini pantas mendapatkannya! Saat Premier di Canada tahun 2012 lalu, film ini mendapat kritik "WAJIB DITONTON".
eberanian English Vinglish adalah sebuah film yang unik (menurut saya) karena keluar dari pakem Bollywooberd pada umumnya, yang mellow, full sing and dance. English Vinglish boleh saya katakan Film Bollywood Selera Hollywood English Vinglish menceritakan tentang Sashi Godbole seorang Ibu beranak dua (diperankan Sridevi) yang merasa dirumahnya sendiri diperlakukan seperti pembantu. Memang dia tetap tidak mau meninggalkan adat istiadatnya sebagai seorang Hindi dimanapun dia berada. Sehingga dia kelihatan kolot (terutama dimata anaknya) di tengah tengah masyarakat modern. Kekolotan yang ditampilkan terutama saat dia menghadiri acara pertemuan antara orang tua siswa dengan guru sekolah anaknya, anaknya sangat malu karena ibunya tidak mampu berbahasa inggris, sementara sekolahnya mungkin tergolong sekolah Bertarap International. Ketertekanan Saashi semakin tinggi ketika, suaminya yg bekerja sebagai kantoran, terus mengatakan, memperlakukan, mengutamakan pekerjaan kantor daripada aktivitas dirumah, bahkan urusan istrinya dianggap sepele, bahwa itu memang pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Cerita mengalir ketika saudaranya Sashi yang bertempat tinggal di Amerika mengirimkan undangan perkawinan anaknya, mereka diundang untuk datang ke Amerika, dan suaminya karena pekerjaan memilih datang pada Hari "H" dan karena istrinya tdk ada pekerjaan maka disuruh berangkat 1 bulan sebelum hari H, sendirian lagi. bisa dibayangkan bagaimana takutnya Sashi ke USA Sendirian dengan kemampuan bahasa inggris yang 0 besar. Kelucuan mulai mengalir ketika sedang dipesawat, bintang tamu Amitabbachan benar benar memperlihatkan kejagoannya berakting walaupun cuma tampil sekitar 5 mnt saja dalam film tersebut. kelucuan juga mengalir sampai ke bandara. Nah, setelah Sashi Goldbole sampai di Amerika dia merasa bingung tdk tahu mau berbuat apa, bahasa tdk mengerti, ngomong tidak tahu mau ngomongin apa, sampai kemudian dia melihat sebuah Iklan Kursus Singkat Bahasa Inggris 4 Minggu. Sambil membongkar tabungan, akhirnya dia mendaftar Kelas Bahasa Inggris kilat, dan selama pelajaran dia selalu menjadi Siswa yang terbaik. dan betapa pentingnya dirasanya pelajarannya itu sampai sampai ketika anaknya telah tiba di Hollywood pun dia masih mencari cari alasan untuk pergi kursus tentunya dengan jalan berbohong. Akhir cerita, dia sukses berbahasa Inggris dan semua orang menaruh hormat padanya, termasuk suami dan anaknya. Hal hal yang menjadi sorotanku dalam film ini adalah. 1. Sridevi benar benar aktris luar biasa, kepiawaiannya bermain film memang tidak diragukan lagi. 2. Film ini tidak ada singing and dancing seperti layaknya film Bollywood 3. Sashi Goldbole tdk pernah melupakan adat istiadatnya walaupun dia sudah berada di Hollywood, kemana mana tetap menggunakan pakaian Sari, memperkenalkan traditional India pada Dunia dan membanggakan bahwa dia adalah dari Hindustan 4. Film ini memiliki ending dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari filmnya. Anyway, para pencinta drama, film ini layak di tonton dengan suami dan istri, terutama yang masih punya anak, dimana terjadinya perdebatan antara anak dan ibu yang seru, si anak merasa ibunya kolot, dan si ibu tetap merasa "saya lebih tahu apa yang kamu butuhkan daripada kamu sendiri", "saya mengenalimu dari bayi sampai besar dan saya lebih memahamimu daripada dirimu sendiri" Selamat menikmati bagi pencinta Bollywood Muhammad Khoiruddin /choir TERVERIFIKASI (HIJAU) Nothing Special From Me Selengkapnya...

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/choir/english-vinglish_551aec9d81331137489de2e3

Jumat, 18 September 2015

PREMAN + KORUPTOR = TUKANG PARKIR


Malam tadi, saya sangat kesal sekali dengan seorang tukang parkir  yang “bertugas” di depan Indomaret samping BRI Seutui, Banda Aceh. Pasalnya, setiap kali saya akan mengambil uang di ATM BRI, suami saya selalu menunggui diatas sepeda motor dihalaman ruko samping BRI tersebut. Dan hanya saya yang masuk ke ATM (ya iyalah, ngapain juga masuk ke atm sekampung, emang gw ambil uang milyaran). Dan tadi malam adalah puncak kekesalannya karena kami tidak pernah memarkirkan sepeda motor kami.
Setengah membentak dia berkata agar lain kali sepeda motor diparkir di atm (biar die dibayar, gitu maksudnya). Langsung saya jawab, kalaupun saya parkir di halaman depan atm atau di indomaret, saya tetap tidak akan bayar. Sejak kapan parkir di halaman pertokoan harus bayar?? Bukannya halaman pertokoan termasuk properti toko. Dan sudah jelas-jelas disetiap indomaret  terpampang pamflet “Parkir Gratis”. Lantas saya bertanya, punya karcis bang? Dan dia mengeluarkan beberapa lembaran karcis parkir untuk mobil yang berserakan. Saya membatin “ini karcis bekas, biasanya karcis parkir selalu berbentuk bundelan/buku kecil yang akan disobek setengah untuk pengguna parkir dan setengah untuk  tukang parkir”. Ini pemerasan!. Bukannya saya perhitungan, sebenarnya saya lebih bermurah hati untuk memberikan uang lebih kepada tukang parkir daripada pengemis “siluman”. Tapi kali ini saya benar-benar geram dibuatnya.
Berbicara tentang qanun “perpakiran”", parkir hanya boleh dikutip untuk kendaraan yang diparkir ditepi jalan raya, dan tertera pada papan-papan tarif retribusi tempat parkir resmi dengan karcis parkis resmi. Tapi masalahnya, banyak sekali tempat parkir yang tidak resmi (yang tidak menyetorkan sebagian pendapatannya ke pemerintah daerah), oleh tukang parkir “unauthorized” (yang tiba-tiba dan baru muncul ketika memungut uang jasa) dengan karcis yang tidak resmi, karcis buatan sendiri, atau tanpa karcis sama sekali. Parkir dihalaman toko tidak lebih 3 menit dan ditunggui pemilik kendaraan , apakah masih bisa mereka disebut berjasa mengamankan?.
Bolehlah ada argumen bahwa keberadaan tukang parkir itu mengurangi pengangguran, meningkatkan taraf ekonomi keluarga mereka, tetapi apa tidak disadari bahwa cara itu sebenarnya juga menyengsarakan taraf ekonomi sesama. Pungli parkir menjadi beban berat bagi mahasiswa miskin yang karena tugas akademiknya harus bolak balik fotocopy, atau pedagang kecil yang harus berkali-kali belanja kebutuhan-kebutuhan kecil. Pungli parkir ini telah menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Mestinya korupsi seharusnya dimaknai bukan hanya sebagai kegiatan yang menimbulkan kerugian negara sebagai definisi formal selama ini. Pungli parkir juga termasuk salah satunya.  Korupsi melalui pungli ditempat-tempat parkir tak kalah oleh pungli yang dilakukan oleh pejabat pemerintah atau pejabat politik di sarang-sarang korupsi. Meski hanya dengan skala dan nominal yang kecil, pungli oleh “rakyat kecil” ini sama menyengsarakannya seperti koruptor kelas kakap.
Mari kita memperbaiki hal-hal kecil, dari lingkungan kecil, untuk mencapai hasil dengan skala yang besar.

Jumat, 18 April 2014

Perjalanan Syahdu Menuju Sabang

Sabang, wilayah Aceh yang berada paling ujung barat itu didengung-dengungkan sebagai salah satu banyaknya dari tetesan rasa surga yang jatuh di Indonesia. Perumpamaan yang dahsyat itu membuat saya ingin sekali mengunjungi Sabang untuk membuktikan kalimat tersebut. Meski saya tinggal di Aceh, tapi belum pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di Sabang (eh pernah ding! waktu TK dulu hihihi). Berhubung saat ini saya sudah menikah dan tinggal bersama suami di Banda Aceh, ber-planning ria lah kami untuk sejenak mengeksplor Sabang yang katanya indahhhhh banget itu. Berangkat dari Banda Aceh pukul 09.00 wib untuk naik kapal di pelabuhan Ulee Lheu pukul 10.00 wib, 


kami memilih untuk naik kapal lambat (kapal barang), dikarenakan kami membawa serta "Dek Bit" (sebutan untuk motor bebek kami hahaha) mengharuskan kami untuk naik kapal tersebut dengan tarif 23ribu/org dan 28rb untuk kendaraan sepeda motor. Lama perjalanan menggunakan kapal lambat ini sekitar 1jam-2,5jam. Jika ingin cepat sampai, bisa menggunakan kapal cepat (kapal penumpang) dengan tarif 60rb-95rb/org. Banyak juga orang-orang dan bule-bule tanpa kendaraan yang memilih naik kapal ini, mungkin selain harganya ekonomis, juga bisa lebih puas menikmati laut lepas hehehe. Dengan semangat kemerdekaan kami duduk manis menanti kapal yang akan membawa kami ke kota impian, ciyeeee. Sudah  hampir 2 jam menunggu, tidak ada tanda-tanda kami harus bersiap-siap masuk ke kapal. Eh ternyata dapat informasi bahwa pada hari-hari tertentu kapal barang hanya berangkat pada 1 waktu yaitu pukul 14.00 wib. Okelah, demi terwujudnya cita-cita bangsa mari kita menunggu! (ampun DJ...) Teng tong teng, jam sudah menunjukkan pukul 13.30 wib, para penumpang sudah dipersilahkan masuk ke kapal (aaahh leganya). Setelah memarkirkan 'dek bit' dengan rapi, kami langsung meluncur ke atas untuk bergabung dan duduk bersama penumpang lainnya. Yuhuuuu ternyata didalamnya ramai sekali.
Kapal ini memiliki beberapa tingkat yang diatasnya juga dihuni oleh para manusia yang ingin berlabuh di kota impian, hihihi. Setelah kami menaruh tas bawaan diatas bangku kosong, secepat kilat kami berlari kegirangan saat melihat pintu belakang kapal terbuka (ciyusss, kami gitu orangnya o_O) untuk melihat keindahan laut. 

Tidak lama kemudian, kapal pun mulai bergerak dan melaju. Banyak sekali orang yang lebih memilih berdiri untuk menikmati alam daripada harus duduk dibangku.
Perjalanan laut yang sangat-sangat luar biasa, memandang hamparan biru kehijauan anugerah Tuhan terasa sangat nikmat bahkan tidak rela meski hanya sekedar untuk mengerjap mata. Ditengah perjalanan, lengkaplah sudah kebahagiaan kami saat segerombolan makhluk laut yang suka menyelamatkan manusia menampakkan dirinya disamping kapal.
Biasanya saya melihat lumba-lumba hanya di tv, tapi sekarang saya sudah menyaksikan langsung di habitat aslinya. Maha besar sang pencipta seakan tertoreh tanpa henti. Mungkin inilah salah satu keberuntungan menaiki kapal lambat, katanya penumpang kapal ini lebih sering melihat lumba-lumba dibandingkan dengan penumpang yang menaiki kapal cepat. Pukul 16.30 wib kami sampai di Pelabuhan Balohan kota Sabang. Kami langsung turun ke bawah kapal, duduk diatas 'dek bit' dan ketika pintu keluar kapal dibuka kami langsung wusssss meninggalkan pelabuhan. 

Saya dan suami benar-benar berada ditempat asing. Untungnya penunjuk jalan benar-benar membantu. Kami langsung menuju kota Sabang yang berjarak 10 km dari pelabuhan Balohan. Suami langsung mengontak temannya (Mr. Adi) untuk menanyakan perihal penginapan. Karena tujuan kami adalah Iboih dan berencana untuk menginap disana. Tapi ternyata Mr.Adi menyarankan agar menginap di losmen yang berada di pusat kota saja, karena perjalanan ke Iboih cukup jauh (sekitar 22 km dari kota) dan hari sudah semakin senja. Mr. Adi juga menambahkan, di Iboih sunyi sekali jika malam dan tidak ada warung-warung yg menjual nasi, karena jam 9 malam mereka sudah tutup. Akhirnya kami sepakat untuk menginap di kota. Besok pagi-pagi saja kami mulai perjalanan ke Iboih. Kebahagiaan semakin bertambah lengkap karena ternyata kamar yang kami sewa langsung menghadap ke teluk kota Sabang. 


Harga sewa per-kamarnya rata-rata berkisar 150rb-500rb. Tergantung kelengkapan fasilitas yang diinginkan. Keesokan paginya sekitar jam 07.00 wib kami langsung capcus menuju Iboih, saat memulai perjalanan menuju Iboih, saya jadi ragu. Betapa tidak. Jalan menuju iboih sangat berkelok-kelok dan naik turun. Saya mengkhawatirkan keadaan 'dek bit'. Bagaimana mungkin motor bebek bisa mendaki jalan seperti ini, hiks. Tapi namanya juga 'dek bit', dengan semangat membara dia menaiki jalan-jalan yang entah bagaimana bentuknya (hidup dek bit!). Sepanjang perjalanan, samping kiri dan kanan kita akan disuguhkan pemandangan hutan lindung. Seperti mau syuting film hantu saja lokasinya, heuheuheu. Kami tetap sabar berjalan meski tapak kaki penuh nanah penuh darah (jiahhhh lebay, keseringan nguping suami dengerin lagu iwal fals ntu sih). 

Akhirnya setelah lebih dari 1 jam perjalanan kami sampai juga ke lokasi dengan penunjuk jalan yang tertulis "Welcome to Iboih" (Huaaaaaa akhirnyaaa). Begitu sampai kami langsung disambut oleh pantai biru jernih tak berbibir dengan hamparan karang dan ikan warna warni yang sangat jelas terlihat begitu saja. Di pinggir-pinggir pantai terdapat warung-warung yang berjualan makanan ringan dan juga tempat penyewaan alat snorkling dan diving. Untuk penyewaan alat snorkling memiliki tarif 40rb seharian sesukamu deh, hihihi.

Melihat pemandangan seperti itu rasanya saya ingin mengambil semua karangnya dan suamiku mengatakan ingin memotong kotak-kotak airnya untuk dibawa pulang dan dimasukkan ke kulkas. Sungguh pemandangan yang membuat 'geram'.


Bule Berjemur hihihi
Melihat alam yang seperti ini, seakan saya tidak memiliki batas nilai untk mengukur berapa rating keindahannya. Benar-benar karya agung sang pencipta semesta alam. Yang dapat dilakukan dalam waktu itu hanyalah duduk termenung menikmati dan mengagumi keajaiban yang terpampang nyata didepan mata.

Saya benar-benar tidak dapat menahan keinginan untuk sekedar mandi dan meminum sebanyak-banyaknya air laut ini (hahaha aku gitu orangnya). Tapi berhubung saya dan suami hanya berdua, rasanya tidak seru kalau mandi dan snorkling. Suamiku berjanji untuk mengajakku kembali bersama teman2 agar bisa snorkling. Tapi saya bingung dengan alam yang mahadahsyat indahnya tidak terlihat banyak orang yang mengunjungi. Dimana-mana hanya terlihat turis asing saja. Tidak ada wisatawan domestik yang terlihat. Disini benar-benar sepi, hiks. Mungkin pengelolaannya yang sangat tidak maksimal sehingga menyebabkan tanah yang kaya ini miskin kunjungan.

Setelah puas dengan keajaiban alam Iboih, kami melanjutkan perjalanan ke 0 Kilometer yang berjarak 8km dari Iboih. Menyempurnakan perjalanan ke 0 Km ternyata cukup melelahkan juga, dengan melewati hutan lindung yang lebih mengerikan akhirnya sampailah kami di titik ujung barat Indonesaaaahhhhh 




Hanya beberapa saat di 0 Kilometer, kami berbalik arah melanjutkan perjalanan ke Gapang. Jalan menuju Gapang, Iboih, dan 0 Km adalah satu arah. Jarak antara 0 Km menuju Gapang adalah sekitar 11 km. Sesampainya di Gapang kami melihat sangat banyak resort-resort yang dihuni oleh turis asing, lagi-lagi hanya penampakan mereka saja yang ada. Tidak ada wisatawan domestik. Gapang juga tidak kalah indah dengan Iboih, memiliki air laut yang jernih bak kaca dengan pemandangan karang yang menganga didepan mata.


Gapang sedikit kotor

Hari sudah siang, perut pun mulai berbunyi, setelah mencari-cari rumah makan disekitar Gapang dan tidak menemukannya, akhirnya kami sepakat untuk langsung melanjutkan ke Sumur Tiga dan Anoi Itam, kami memutuskan untuk makan siang di Anoi Itam saja. Perjalanan ke Anoi Itam sekitar 27km dari Gapang. Sesampainya di kawasan Sumur Tiga dan Anoi Itam saya seakan terbius dengan landskap alamnya yang biasanya hanya bisa dinikmati melalu karya fotographi 









Alam yang begitu mempesona membuat kami sejenak melupakan rasa lapar. Ketika kembali mengingatnya, kami kecewa karena lagi-lagi tidak ada warung ditempat ini (huaaaaaaa nangis gila). Akhirnya kami kembali ke kota untuk mengisi perut. Saya memilih untuk mencicipi Mie Jalak (salah satu kuliner khas kota Sabang)


Setelah kenyang kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat karena keesokan paginya kami harus kembali ke Banda Aceh. Esoknya, pukul 06.00 wib kami buru-buru ke pelabuhan Balohan agar tidak ketinggalan kapal lambat, karena katanya orang-orang bisa menunggu/antri sampai berhari-hari agar kendaraannya bisa diangkut/muat kapal. Untunglah bagi pengguna sepeda motor tidak terlalu khawatir, tapi kasihan bagi pengguna mobil yang harus antri kendaraannya selama 2-3hari untuk naik ke kapal dikarenakan tidak muatnya beban. Rasa sedih menyusup ketika berada di pelabuhan, saya benar-benar tidak dapat melupakan keindahan Sabang. 




My hubby in action go back to Banda Aceh


Tepat pukul 07.30 wib kami sudah menaiki kapal menuju ke Banda Aceh, kembali mengarungi Samudera Hindia.


 
 






Perjalanan pulang dari pelabuhan Balohan Sabang ke Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh hanya berkisar 1jam saja. Dan dalam perjalanan pulang, kami tidak melihat kemunculan lumba-lumba (apakah mereka sedih atas kepulanganku? Oh no bebi hiks). Sama sedihnya dengan saya yang seakan benar-benar tidak rela perjalanan ini berakhir. Kami berjanji untuk datang kembali ke kota yang memiliki pantai nan menawan itu. 

Dagh dagh Sabang :(

Sabang, Aku meninggalkan hatiku dikota mu. Sabang, tempat syahdu yang harus kalian kunjungi sebelum mati. (Ratizza)

Sabtu, 28 Desember 2013

EDENSOR

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan,menggoda mara bahaya dan memecahkan misteri dengan sains.
Aku ingin menghirup udara berupa pengalaman, lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.
Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium.
Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing.
Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang.
Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin.
Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukkan.
Aku ingin hidup, ingin merasakan sari pati hidup!!

-Ratizza-

Sabtu, 21 September 2013

BUKAN UNTUKMU

Saya mencintai sunset,
menatap kaki langit, ombak berdebum
Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah,
kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyukai bulan,
entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana
Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel,
kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan

Saya menyayangi serumpun mawar
berbunga warna-warni, mekar semerbak
Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar
tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan

Saya mengasihi kunang-kunang
terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap
Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan
tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki

Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Egois sekali, Kawan, jika tetap kau lakukan.
Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari
Tiada lagi indah langit tanpa purnama
Juga taman tanpa mawar merekah
Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati

Selalu begitu, hingga akhir nanti.



Senin, 02 September 2013

Wanita Dalam Keindahan Sebuah Kesetiaan

Kesetiaan adalah sebuah karya seni dari batin manusia yang dapat sangat membahagiakan manusia yang lain. Harganya tidak tertera dalam hitungan rupiah. Dan kesetiaan itulah yang teramat sangat langka untuk kita jumpai sekarang ini.

Kesetiaan tidak hanya berlaku hanya kepada hubungan suami dan istri, namun pada semua hubungan hati manusia lengkap dengan kepentingan mereka.

Tanyalah pada setiap batin manusia, betapa mereka pasti akan membutuhkan seseorang yang dapat dengan tulus memberikan kesetiaan kepada diri mereka.

 Tapi mengapa disisi lain, ketika manusia ditempatkan pada posisi dimana dia harus memenuhi kepercayaan orang lain, atau dengan kata lain demi membahagiakan diri orang lain, seringkali manusia terjebak pada godaan main api tentang bagaimana menyalahi kesetiaan tersebut. Begitulah, bagaimanapun ceritanya, setan tak akan pernah henti membuat manusia berdosa.

 Maka dari itu, dari pada kita sendiri sibuk menuntut orang lain untuk selalu memegang amanah serta kepercayaan yang kita berikan kepadanya, maka mengapa kita tidak lebih baik mewujudkan diri kita sendiri sebagai hadiah terindah yang membahagiakan mereka. Sebuah pelatihan yang baik yang akan memberikan kenyataan praktek yang indah dalam kesetiaan, adalah apabila diri kita sendiri secara sadar mengerti tentang indahnya sebuah kesetiaan.

Karena kesetiaan hanya dimiliki oleh pribadi yang mulia, karena kesetiaan itu mencerminkan pribadinya yang begitu luas menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain. Jiwanya yang luas menuntunnya tersenyum dan tetap berpikir positif tentang segala apa yang telah Allah gariskan kepadanya.

 Karena kesetiaan hanya dimiliki oleh pribadi dengan jiwa yang kuat. Lihatlah betapa anggun tentang caranya bertahan menghadapi segala apa yang disuguhkan kepadanya. Dan sudah lumrah bila manusia dilengkapi rasa bosan, namun sebuah pelajaran tentang kesetiaan, telah mengajarkan manusia yang dilengkapi atau melengkapi batinnya dengan hal tersebut, untuk berubah menjadi ajaib dimana dengan caranya yang elegan, akan di ubahnya rasa bosan menjadi hal yang menyenangkan.

 Karena kesetiaan hanya dimiliki oleh jiwa yang indah. Betapa sangat sulit ketika seseorang ditetapkan pada keadaan dimana dia harus tetap pada sebuah kesetiaan yang terkelilingi oleh keadaan yang serba berkhianat. Memang pahit pada awalnya karena dengan hal ini, dia `terpaksa` untuk pelatihan mengindahkan jiwa dan kalbunya sendiri, demi tetap pada kesetiaan.

 Menjadi setia adalah memberi kedamaian kepada siapapun yang kita setia kepadanya. Menjadi setia adalah tetap menyenangkan kepada siapapun yang kita setia kepadanya. Menjadi setia adalah sebuah karunia tak terhingga bagi siapapun yang dikehendaki Allah untuk memilikinya.

 Maka milikilah hak paten dari sebuah kesetiaan, yaitu dengan menjadi setia hamba Allah yang tetap lurus, atau berusaha agar selalu tetap lurus dalam keadaan apapun. Adakah yang lebih indah dari sebuah perangai dan tingkah laku seorang hamba yang hatinya tunduk patuh serta mengabdi kepada Rabbnya? Jatuh bangun adalah sesuatu yang pasti dalam sebuah mentraining diri menjadi setia, tapi yang pasti pula, bahwa sebuah perjuangan pastilah ada akhirnya, dan semoga akhir dari pribadi yang sungguh setia adalah beroleh dengan Surga


Minggu, 18 Agustus 2013

ANTARA DYSLEXIA DAN PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA

Ada batu-batu berharga di sekitar kita yg akan mengubah jalur dunia karena mereka dapat melihat dunia dengan cara berbeda. Pikiran mereka unik & tidak setiap orang mengerti mereka. Mereka membalikkan. Kemudian mereka muncul sebagai pemenang dan dunia terkejut”

Kita semua tentu mengenal nama-nama hebat seperti Leonardo Da Vinci, Pablo Picasso, Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Thomas Alva Edison, Agatha Christie dan Walt Disney. Nama-nama besar ini hingga kini masih sering disebut dunia karena prestasi yang mereka goreskan dalam kanvas peradaban dunia, meskipun mereka telah ratusan dan puluhan tahun meninggal dunia. Semua orang tentu mengenal karya-karya hebat mereka tetapi hanya sedikit dari kita yang tahu tentang kelemahan yang mereka alami. Mereka semua ternyata memiliki satu kelainan yang disebut dengan Dyslexia.   

Bagi Albert Einstein huruf yang tertulis di kertas terlihat menari-nari dalam pandangannya. Pablo Picasso tidak bisa membedakan antara angka 7 dengan bentuk hidung pamannya. Leonardo Da Vinci memiliki tulisan yang terbalik, yang baru dapat dibaca dengan jelas ketika dibaca dengan menggunakan cermin. Penulis novel hebat sepanjang masa Agatha Christie bahkan mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. Sungguh sebuah keajaiban tentunya, masih banyak lagi nama-nama besar lainnya yang mengalami kelainan dyslexia tetapi memberikan kontribusi hebat bagi dunia.

Dyslexia, Guru Dan Metode Yang Tepat. 
Kisah menarik tentang seorang anak yang menderita dyslexia diceritakan dengan baik oleh Film Taree Zameen Par. Jika diterjemahkan secara bebas, judul film ini memiliki makna bintang kecil di bumi. Film besutan aktor India Amir Khan ini tidak hanya bercerita tentang seorang anak dyslexia tetapi juga memiliki pelajaran moral yang baik dalam pendidikan – mendidik untuk memanusiakan manusia. Film ini menceritakan seorang anak bernama lshaan (Nandkishore Awasthi) yang menderita dyslexia. Kelainan yang dideritanya ternyata tidak diketahui oleh kedua orang tuanya hingga Ishaan dididik di sekolah asrama dan mendapatkan guru yang memang memahami keterbatasan tersebut.

Apakah sebenarnya dyslexia? Dyslexia merupakan keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang yang mempengaruhi kemampuannya dalam bahasa lisan dan tulisan. Keterbatasan ini juga menyebabkan mereka sulit untuk memahami sesuatu, mengingat, mengorganisasikan dan menggunakan simbol-simbol verbal. Dyslexia tidak ada hubungannya dengan keterbatasan intelektual, karena dyslexia dapat terjadi pada individu dengan berbagai tingkat kecerdasan. Bahkan penelitian ilmiah juga menemukan adanya keterkaitan yang positif antara dyslexia dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata.


Berbagai kesulitan dialami oleh orang tua Ishaan ketika mereka harus mendidiknya. Orang tuanya pun akhirnya mengirimkannya ke sekolah asrama karena Ishaan telah dua tahun tidak naik kelas di sekolah sebelumnya. Ishaan amat sulit untuk melakukan perhitungan matematis, membaca dan menulis. Namun demikian ia memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi. Hal ini terlihat dari lukisan-lukisan yang ia buat. Orang tua Ishaan tidak menyadari hal tersebut. Mereka selalu memaksakan agar Ishaan mendapatkan prestasi yang baik di sekolahnya agar kelak ia mampu bersaing dalam kehidupan di masyarakat. Rasa frustasi pun muncul dalam diri mereka berdua ketika mereka tak juga berhasil membuat Ishaan berubah. Proses pendidikan yang dialami oleh Ishaan di sekolah berasrama semakin membuatnya tertekan. Keteraturan, kedisiplinan dan ketiadaan kasih sayang dari kedua orang tuanya semakin meruntuhkan rasa percaya dirinya. Tipe-tipe guru yang memaksakan kehendak dan menekan siswa untuk selalu berprestasi di kelas semakin membuat Ishaan tertekan. Hingga pada akhirnya muncul seorang guru bernama Ram Shankar Nikumbh. Guru menggambar yang membuat segala sesuatunya menjadi berbeda.

Guru Nikumbh berhasil menumbuhkan kepercayaan diri Ishaan dan kemampuannya untuk melukis kembali. Nikumbh juga memberikan informasi yang detail kepada kedua orang tua Ishaan tentang kelainan dyslexia yang dimiliki oleh anaknya. Komunikasi ini juga dilakukannya kepada managemen sekolah untuk memberikan perlakuan yang khusus kepada Ishaan. Ishaan diberikan fasilitas untuk mendapatkan ujian secara lisan, mengingat kemampuannya menulisnya masih terkendala. Nikumbh sendiri sebenarnya juga penderita dyslexia yang berhasil mengatasi keterbatasan tersebut karena mendapatkan guru dan metode pembelajaran yang tepat. Pemahaman yang baik tentang dyslexia dan kesabarannya dalam mendidik Ishaan membuahkan hasil yang luar biasa. Kemampuan melukis Ishan menjadi semakin baik, dan ia juga berhasil membuat Ishan bisa membaca, menulis, berhitung dan mengingat urutan-urutan huruf, kata dan kalimat dengan baik.


Pendidikan Yang Memanusiakan Manusia
Saya jadi teringat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Prof. Yohannes Surya, beliau mengatakan Anak-anak akan menjadi luar biasa jika diberikan guru yang hebat dengan metode yang tepat. Film yang saya kemukakan di atas merupakan paparan atas apa yang terjadi di dunia nyata. Selain film Taree Zameen Par, ada beberapa film dengan tema pendidikan yang menarik untuk disimak seperti Monalisa Smile dan 3 Idiot. Dari ketiga film tersebut dapat ditarik benang merah, bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah membuat manusia merdeka untuk berfikir dengan segala kreatifitas yang dimilikinya. Namun demikian pendidikan kita saat ini secara umum lebih menekankan pada prestasi akademik dan cenderung dogmatis. Model pendidikan seperti ini jelas tidak akan mampu menggali potensi-potensi anak seperti Ishaan yang menderita dyslexia. Padahal sebenarnya jika dikelola dengan baik, anak seperti ini justru yang akan menjadi penerus-penerus Albert Einstein, Stephen Hawking, dan ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya.


Siswa yang hebat adalah mereka yang mampu mendapat nilai 100, 90, 80. Seringkali berbagai kesalahan tidak ditoleransi oleh guru-guru ataupun dosen-dosen ketika mereka menyampaikan materi pelajaran atau kuliahnya. Tak jarang juga, para pendidik tersebut memaksakan gaya belajar mereka kepada siswa mereka. Mereka lupa bahwa setiap orang memiliki keunikan masing-masing. Setiap manusia diciptakan Tuhan dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Ada kelebihan dan tentu mereka memiliki kekurangan.

Banyak guru dan dosen bertindak seperti ulama besar, semua kata yang disampaikan harus ditiru, jawaban ujian harus sama persis dengan apa yang tercantum di dalam buku teks. Jawaban yang berbeda dari apa yang tercantum di buku teks atau apa yang telah disampaikan adalah haram! Mereka tidak mentolerir pemikiran-pemikiran yang berbeda. Inikah yang dinamakan pendidikan dan ilmu pengetahuan? Aneh !!, mendidik mengharuskan semua pemikiran sama dan ilmu pengetahuan dianggap seperti agama. Ilmu pengetahuan itu berkembang terus dalam hitungan waktu, bersifat dinamis dan selalu berubah. Ilmu pengetahuan dapat berkembang karena kritik. Apakah seperti itu mendidik? Gaya seperti itu tidak akan dapat membuat siswa atau mahasiswa menjadi paham. Mereka hanya pandai menghafal. Nilai mereka mungkin bisa bagus tapi hanya sebatas hafalan, mereka jelas tidak

Pendidikan sebenarnya adalah proses untuk mengarahkan agar individu menjadi apa yang mereka bisa lakukan dan menjadi. Pendidikan bukan untuk memaksakan atas apa yang mereka tidak ingin lakukan dan menjadi. Adalah sangat tidak tepat untuk mengajarkan monyet terbang di angkasa atau mengajarkan lumba-lumba memanjat pohon. Mendidik adalah proses memanusiakan manusia, supaya mereka bisa hidup dengan potensi yang mereka miliki. Materialisme dalam kehidupan terkadang juga telah membutakan hati para orang tua untuk selalu menuntut anaknya selalu berprestasi, mencapai nilai yang tinggi dari sisi akademis agar kelak anaknya mampu bersaing dalam kehidupan. Tetapi mereka lupa untuk memanusiakan anak-anaknya. Kasih sayang hanya diberikan jika anak-anaknya berhasil mendapatkan nilai yang bagus, tetapi cacian datang bertubi-tubi ketika anaknya terpuruk.
 
Begitu juga dengan mereka-mereka yang disebut sebagai pendidik, terkadang mereka lupa memanusiakan anak didiknya. Seorang teman pernah bercerita pengalamannya memiliki seorang dosen yang pekerjaannya hanya mencaci dan memaki kesalahan mahasiswanya. Baginya kesalahan adalah aib yang memalukan. Baginya tidak ada pertanyaan yang baik, setiap pertanyaan selalu mendapatkan celaan. Tipe pendidik seperti apakah dosen itu? Sudahkah ia merasa dirinya begitu hebat dengan gelar dan prestasi yang ia miliki? Untuk guru-guru dan dosen-dosen yang berperilaku seperti ini, sebaiknya anda mengajar di padang bebatuan saja. Niscaya batu-batupun lama kelamaan akan pecah mendengar umpatan-umpatan, dan cacian Anda tersebut.